Bukan Gamis Biasa

Ini bukan mau promo gamis apalagi mau pamer gamis baru.hihi. Ini sempurna kisah mereka yang membuatku tersenyum bahagia saat ingat kisah ini…
IMG20171228081519

Suatu siang, seperti biasa aku menyambut mereka di ruang tamu sebelum belajar dimulai. Ya, kontrakanku tidak hanya ku fungsikan sebagai sarana membaca bagi masyarakat sekitar tapi juga tempat setiap orang yang ingin belajar untuk datang. Tak terkecuali, untukku. Penyambutan ini bukan semata-mata “peraturan bimbel” kami, tapi kami percaya, setiap anak pasti bahagia saat mereka “pulang kerumah” mereka di sambut gembira…

Salah satu anak gadisku datang dengan membawa sepeda. Setelah ia menarik nafas dan bercanda ria, ia mendekatiku yang sedang siap-siap untuk masuk kelas. “Bunda, aku jualan gamis. Bunda mau beli ga?” Begitu awalnya.. Aku langsung ingat proyek mereka di sekolah yang beberapa waktu lalu mereka ceritakan. “Oh ya? Kakak jual berapa?” Tanyaku serius. “Harganya seratus lima puluh ribu, bunda..” Aku tersenyum. Bukan karena harganya, tapi melihat semangat anak di depanku menawarkan jadi semangat untuk melihat gamisnya. “Boleh bunda lihat gamisnya?” Dan ia dengan sigap mengeluarkan gamis serta bercerita kepada siapa saja sudah ia tawarkan gamis itu…

“Bunda akan beli, tapi kalau bisa ditawar seratus ribu rupiah”. Kataku kemudian. Sesungguhnya, aku setengah bercanda, setengah menantangnya untuk beradu argumen. Dan sungguh dalam hati aku memang akan membelinya meski tanpa diskon. Lalu ia bilang: “Bunda, aku tanya umi dulu yaa..”
“Kenapa tanya umi nak, kan kakak yang jualan?” Lalu ia cerita untuk apa ia melakukan uasaha ini. Sepertinya ia sedang diajarkan berwirausaha oleh uminya dan aku dengan senang hati mengambil peran yang bisa ku mainkan.
“Wah, kalau semua hasil penjualannnya untuk kakak berarti 100 ribu cukup ka..” Kataku menggoda.

Dari arah luar, anakku yang lelaki bilang, “Bunda, bunda sedang tidak punya uang banget ya? Kok menawarnya murah sekali?” Aku yang sedang di ruang tamu, duduk bersama si anak di Taman Baca dan mendengarkan “teorinya” lebih lanjut.

“Waktu aku mengerjakan proyek sekolah, dan aku ikut menjaga toko mama, ketika aku melayani bapak-bapak, semua gampang. Tapi ketika ibu-ibu yang beli, haduuuh bunda… sudah nawarnya banyak, minta cicilan juga. Aku pusing deh.. ” Begitu tuturnya.

Dan aku tergelak tak tertahankan mendengar curhatan bocah lelaki ini. Dan aku sampaikan tentang tawar menawar dalam jual beli. Berikut adabnya ketika kita yang menjadi pembeli. Meski aku tidak tahu pasti, penjelasanku bisa atau tidak menghapus “streotipe” ibu-ibu dalam benak anak ini ketika berjual beli.

Besoknya, anak gadisku datang lagi. Sejujurnya, aku lupa dengan gamis itu. Dan anakku berbisik, “Bunda, ini gamis yang kemarin. Aku sepakat dengan harganya. Tapi bunda jangan bilang siapa-siapa yaaa..”

Jadilah gamis itu milikku sekarang. Setelah sebelumnya aku mengkonfirmasi kepada orangtuanya.. Gamis yang setiap aku pakai mengingatkanku pada wajah cantik nan lembut penjualnya. Gamis yang setiap aku kenakan, mengantarkan aku sampai kapanpun pada masa kecil anak-anakku.

Semoga, kelak engkau menjadi pengusaha sukses nak. Pedagang yang jujur dan taat pada perintah Allah.

Tangerang, 2 Januari 2018

Goresan kenangan,
Untuk Ananda Amaliyah Husna..

Iklan

Teman Sore

Dinamika hidup kita boleh berganti. Tapi yang harus tetap adalah apa yang kita sembah.
Aku menjadikan kalimat itu tidak hanya semboyan, tapi juga pelecut untuk tetap menikmati setiap fase hidup. Termasuk saat ini, ketika rindu terhadap tangisan bayi mulai menyergap dada. Kalimat itu membuat aku tidak hanya merasa kuat tapi juga menumbuhkan kesyukuran terhadap segala yang sedang Allah ujikan dan sudah Allah amanahkan.. Karena, terkadang kita kelewat sibuk dengan apa yang belum kita miliki tapi abai dengan apa yang sudah Allah anugrahi…

Di saat rindu itu menggelegak, dan di saat yang sama Allah juga menyadarkan aku tentang hadirnya sosok-sosok lucu yang memang bukan hadir dari rahimku. Tapi aku berharap cintaku bisa membuat mereka bertumbuh “sempurna”. Ya, mereka lahir dari cinta di dadaku.
IMG_20171215_185509_724

Anak-anak yang sudah semakin besar, setiap mereka memiliki cara sendiri untuk ditenangkan, memiliki kebutuhan tersendiri untuk bertumbuh, dan setiap mereka memiliki keahlian tersendiri untuk membuatku tertawa tergelak. Ya, tawa yang “ahli komedi” pun tak pernah membuatku tertawa selepas dengan mereka.
IMG_20171202_120200_921

Terkadang mereka seperti anak-anak pada umumnya, misal ketika mereka bilang: “Bunda, aku mau disuapi tapi bunda ga boleh bilang-bilang yang lain”. Atau saat yang lain,mengatakan: “bunda, bunda lagi ga punya uang banget ya? Kok nawarnya murah banget?” Ya, ini kejadian yang tidak akan pernah kami lupakan.. Soal tawar menawar barang dan adab berbelanja (ini akan kita kisahkan di cerita yang lain).
IMG_20171212_085947_107

Anak-anak ini menjadi teman sore yang teramat istimewa. Bukan hanya membuat seisi rumah jadi hidup, tapi juga menjadi teman belajar dan “magang” yang baik untukku sebelum menjadi ibu..
Dan ternyata, tak peduli apapun ujian hidup yang kita alami, saat ada syukur ternyata bisa membuat kita tetap tersenyum bahagia.

Tangerang, 02 Januari 2018
Di Taman Baca Generasi Inspirasi

Cinta Perempuan Biasa

Bukan sekali bertanya, apa itu cinta? Sampai akhirnya, orang terakhir yang kutanya menjawab: “Itu pertanyaan aneh!”. Aku belajar mencintai dari tulusnya seorang ibu, aku juga belajar mencintai dan dicintai dari hangatnya seorang guru. Tak lupa, aku juga dibesarkan cinta oleh manisnya persahabatan. Tapi, bagaimana cinta perempuan pada lelaki yang tidak ia kenali?

Maka kemudian, aku pilih ia yang paling mendekatkanku pada pemahaman cinta versiku. Cinta yang lahir dari pengorbanan dan perjuangan panjang di jalan yang sama, jalanNya orang-orang berusaha berislam dan beriman dengan baik. Meski tak urung, pertanyaan itu muncul menggema. Sudahkah aku cukup mencinta?

Karena bagiku, cinta seorang istri haruslah pengorbanan tulus tanpa keluh. Haruslah ia laksana matahari yang tidak pernah bosan memberi energi yang menyeluruh. Haruslah ia melahirkan kasih yang tiada pernah luruh.

Jeri saat melihatnya membantu semua pekerjaanku. Saat ia dengan sabar memompa semangatku yang luntur untuk berikhtiar. Atau ketika ia bergelut dengan deras hujan demi diriku. Baginya Rasul pun melakukan itu, tapi bagiku harusnya cinta membuatnya tak harus berkorban sedemikian banyak untukku.

Maka aku tersadar, cinta bagiku bukan lagi pengorbanan salah satu pihak. Ia adalah kolaborasi kerelaan dari dua hati yang tidak ingin kekasihnya lelah atau tersakiti. Cinta bukan lagi perasaan warna-warni indah, tapi ia bertransformasi menjadi fondasi kuat menuju pernikahan abadi.

Cinta perempuan biasa semoga bisa mengantarkan lelaki-nya menuju kesuksesan ukhrawi. Keridhoan ilahi, dan keberkahan duniawi. Aamiin.

Matahari Itu Duduk di Ruang Tamuku

Aku tak sabar menuhggu pagi ini datang. Saat malam tadi seseorang menghubungiku akan berkunjung ke Cisereh. Mengetahui ada orang yang mau datang kesini saja sudah bahagia, maklum tempat “persemedi-an” ini butuh perjuangan dan tekad kuat untuk sampai. Dan ditambah dengan sosok keluarga yang datang, menambah semuanget. Insting kepo-ku aktif sejak ia dan keluarganya menyatakan akan silaturrahim.

Siapakah dia?
Aku mengenalnya lewat media massa. Seorang perempuan sederhana dari ujung Kab. Tangerang. Ia yang membaktikan seluruh hidupnya untuk orang lain. Untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Kisah perjuangannya pernah diangkat di acara salah satu talkshow bergengsi di salah satu TV Swasta Nasional dan ia juga menyabet Award salah satu Bank ternama di negara ini.

IMG20170629102428
Ia adalah Ibu Sukmariah. Orang mengenalnya dengan sebutan Bu Sukma atau Bu Ucu.

Tepat beberapa pekan setelah aku menandatangani kontrak kerja 4 tahun lalu dengan salah satu sekolah swasta di Kab. Tangerang, ia menghubungiku untuk suatu pekerjaan di bidang yang tak kalah aku impikan. Tapi komitmen adalah komitmen. Seiring berjalannya waktu dan kesibukan di tempat kerja, aku “lupa” aku punya idola yang belum pernah kudatangi.

Hingga Pemerintah Kab.Tangerang melalui Dinas Perpustakaannya mengadakan sebuah acara yang akhirnya mempertemukan kami sebagai peserta yang tentu saja, aku adalah si krucil yang belum tahu apa-apa di dunia sosial. New comers yang masih perlu banyak belajar. Ia bertutur tentang pertemuan-pertemuan kami, tapi mirisnya aku belun tahu ia yang aku temui itu adalah yang “aku cari” selama ini. Kemampuanku menghafal wajah dan nama juga sinkronisasi keduanya memang perlu di upgrade.

Maka, ketika pagi ini ia datang bersama suaminya dan ketiga buah hatinya, aku berlonjak girang. Matahari itu duduk di ruang reotku. Aku bebas mengeksplore segala yang ingin aku tahu..
Maka terkisahlah semua cerita kebaikan itu. Dengan gaya sederhana dan tidak menampakkan bahwa dirinya memang layak digelari hebat ia mengajariku tentang hidup.

Dengan ratusan masyarakat miskin yang terbina yang tentu saja sekarang sudah berubah menjadi warga berkecukupan , kini tiga tahun terakhir ia sedang mengembangkan bisnis akhirat di bidang pendidikan. Ia mendirikan sekolah gratis untuk fakir miskin dan anak yatim tingat SMP-SMA. Sekolah boarding yang semua dananya tidak sepeser pun diambil dari kantong siswa. Aku pikir, sekolah model ini hanya ada di Jawa atau tempat lain yang jauuuh dari ibu kota, ternyata disini, di dekatku sendiri sekolah yang sejak lama aku impikan untuk ada.

Tujuh belas tahun ia berjuang di pemberdayaan masayarakat dan kini ia berjuang di dunia pendidikan rasanya membuat kekagumanku menggunung. Meski, aku tahu tidak ada manusia sempurna. Tapi, yang aku yakini hanya orang yang tulus yang mau berkorban untuk orang lain.

Sekolah gratis ini baru tiga tahun berdiri dan sudah mendapatkan akreditasi tanpa keluar uang (Selain biaya fotokopi berkas). Dan tamparan pembelajaran itu adalah ketika ia mengatakan: “Selama kami mendirikan sekolah pantang bagi kami untuk membuat proposal dan meminta-minta bantuan. Operasional sekolah sudah tertutupi BOS, maka jikapun ada pembangunan maka sifatnya kerja sama.” Sederhana, lugas, berharga diri.

Semoga esok lusa, aku bisa setulus dirinya. Bisa sekonsisten ia berbakti untuk negeri ini. Mampu seteguh ia mememegang amanah. Dan dapat menyinari orang lain pula dengan ketulusan, kecerdasan, juga kebaikan hati seperti yang dimilikinya.

Tangerang, 29 Juni 2017

Si Kecil Berdiam Di Masjid

Sepuluh hari terakhir Ramadhan kali ini menjadi penuh pembelajaran untuk kami. Saat kami belajar menjadi teman bertumbuh yang baik untuk anak-anak di sekitar kami, Allah menyuguhkan pembelajaran penting tentang mendidik anak. Ya, kami kembali dengan si “keluarga langit”.
Ketika itu di salah satu masjid di Kab. Tangerag kami bertemu dengan dua anak kecil yang ikut ayah ibunya berdiam di masjid. Kami dekati sang ibu, dan mulailah ke-kepo-an bekerja. Kami sampaikan tentang bagaimana bisa membawa dua anak agar mau ikut berdiam di masjid dengan tempat istirahat dan makan seadanya? Dan kedua anak itu terlihat teramat menikmati.
Kami sudah menyiapkan telinga untuk penjelasan panjang lebar, tapi ternyata jawabannya hanya: “Semua tergantung kita, mba..”. Yup pertanyaan yang sudah menumpuk-numpuk itu hilang, saat ia sampaikan kalimat tersebut. Teringat seorang sahabat yang mengurungkan niat untuk ke masjid dengan alasan buah hati. Dan menurut kami, itu masuk akal.. Tapi jawaban sang ibu tentang -semua tergantung ibunya- membuat akal kami mendadak menjadi dangkal. Kemanapun, aktivitas apapun, agar si kecil bisa ikut menikmati semua tergantung kita-ibunya.
Pelajaran berikutnya masih di sepuluh hari terakhir saat kami mendengar suara tangis bayi di pojok salah satu masjid di Jakarta Pusat. Pikir kami, mungkin sedang diajak rehat sholat oleh orangtuanya.. masa iya ada bayi yang diajak I’tikaf? Malam datang, saat taraweh sedang khusu dilaksanakan kami beringsut ke belakang karena suatu urusan dan ternyata benar, ada bayi merah di shaf paling belakang. Usianya belum genap tiga bulan.. Rabbana.. hati kami mencelos.. Maka kemudian kami yakin, ada pelajaran penting tentang berdiam di masjid yang membuat para orangtua ini “keukueh” mengajak buah hatinya ke masjid. Hikmah yang kami tangkap itu adalah:

1. Mengajarkan anak untuk menautkan hatinya ke masjid. Memberikan keteladanan pada mereka, bahwa selain mall dan tempat rekreasi, ada tempat yang juga tak kalah menyenangkan dan menenangkan yang wajib untuk dikunjungi.
2. Mendidik anak untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Bertemu teman baru, suuasana tidur yang jauuuh dari kasur empuk, makan dan berbuka seadanya, juga toilet yang pasti berbeda dengan di rumah
3. Quality time bersama si kecil dengan Al-Qur’an dan ibadah.

Mau anak kita tumbuh menjadi pribadi yang hatinya terpaut pada masjid dan dekat dengan Rabb-nya?
Ajak mereka I’tikaf dan bersabarlah meski (agak) repot.. kerepotan itu akan menjadi saksi suatu hari nanti, bahwa kita sudah berupaya optimal mendidik putra-putri kita.

Tangerang, 27 Juni 2017 (3 Syawal 1438 H)

——————————————————————
#Catatan untukmu yang berjanji di selasar masjid

Keluarga Tenang

Namanya Syabi. Lengkapnya Muhammad Syabi Barokah. Ia teman kecilku saat berlibur ke kota hujan beberapa pekan lalu.
Apa yang menarik dari diri anak kelas 4 sekolah dasar ini?
All of him.
Semua yang ada di dirinya sangat menarik untuk dipelajari dan semoga bisa dicontoh dirumahku kelak..
Sebagai orang yang selalu kepo dengan dunia keluarga, aku menilai semua hal menarik tentang Syabi berawal dari kedua orangtuanya, dari keluarganya.
Syabi anak tengah dari tiga bersaudara. Ia dibesarkan oleh tangan kekar seorang petani dan perempuan putih nan lembut khas Bogor. Meski sang ibu bukan asli Bogor tapi berhubung lama tinggal disana jadi miriiiiiiip sekali sifat dan lembutnya jadi seperti orang sana.
Kolaborasi kelembutan dan tegasnya sang ayah sepertinya yang menjadikan anak-anak asuhan mereka sungguh berbeda dengan anak pada umumnya.
Sang ayah rela menjemput ke sekolah si sulung meski si sulung baru terlambat 10 menit dari kebiasaannya sampai ke rumah. Bagi keluarga mereka, “pergi dengan izin orang tua” adalah keharusan. Dan bagi mereka, anak-anak SMA yang menurut sebagian orangtua adalah sudah besar tapi bagi mereka tetap memerlukan perlindungan ketat. Hasilnya adalah, sang anak jadi disiplin dan penuh hormat. Itu terbukti dari konsistensinya mengerjakan tugas rumah tangga yang dibagi padanya. Ia bertugas merebus air di tungku setiap sore. Dan itu ia lakukan dengan tanpa terpaksa.
Ayahnya juga rela mengerjakan segala tugas rumah tangga ketika sang istri hamil. Cintanya tidak sama sekali ada si status media sosial tapi menajam ke dasar hati. Itu yang tertangkap dari mataku saat ngobrol santai dengan keluarga ini.
Si kecil, yang perempuan juga unik. Sejak bangun tidur, ia sudah dibiasakan untuk pergi ke pengajian. Oh iya, pengajian disana tidak seperti kita yang sepekan sekali. Anak-anak mengaji setiap waktu sholat.Jadi, ia yang baru 4tahun itu ketika pertama kali bangun langsung ganti baju dan berangkat ke majlim ta’lim (minus mandi.. karena sueeer dingin banget).
Lalu apa istimewanya Syabi?
Anak tengah di beberapa keluarga yang kami amati, biasanya sulit diatur, senang mencari perhatian dan beberapa destruktif (tidak semua keluarga ya..). Tetapi Syabi tidak. Ia memang aktif, tapi aktif yang teratur. Ia mengaji 5 kali sehari ke pesantren dekat rumah, ikut ta’lim sampai malam dan terkadang menginap, berangkat sekolah, dan pulang sekolah mengaji lagi… Begitu setiap hari. Tapi, apa Syabi tidak mendapat jatah pekerjaan Rumah Tangga? Meski ia laki-laki, ia juga mendapat pekerjaan yang mungkin di beberapa wilayah di negeri kita hanya dilakukan oleh perempuan. Menyapu. Ya, sebelum sekolah setelah pulang mengaji subuh, ia akan mengambil sapu dan membesihkan sekeliling rumah. Belum lagi, lembutnya ia ketika menggendong adiknya dari rumah ke pengajian. Adiknya yang seusia TK dan dirinya yang baru kelas 4 jadi pemandangan yang luar biasa untukku…Tapi Syabi benar-benar anak bebas. Ia punya banyak teman, punya banyak aktivitas, dan tentu saja ia punya kebiasaan sendiri yang tidak sama dengan kakaknya yang akademisnya melangit. Syabi, dengan segala rutinitas dan padatnya aktivitas bisa menjadi anak yang tetap anak-anak dan menikmati ke-anak-anakannya..Bagiku ini tidak biasa.
Maka, kami dua manusia yang baru belajar ingin jadi orangtua ini berintrospeksi.
Sudah se-siap apa?

Tangerang, 12 April 2017

Cinta

Cinta Aku mencintaimu pada pekan pertama..
Untuk si Keras Hati, itu waktu yang tak lama…
Ntah bagaimana aku bisa mencintamu
Ntah Mengapa aku bisa tertawa bersamamu
PADAHAL Rupa lakumu Terkadang membuat sebagian besar orang jemu
Gayamu Sering membuat rasa tak tentu
Tapi disisiku kalian tetap seru
Saat sakit, saat bingung, saat tak tahu, saat gerah, hingga saat tak punya uang kau datang mencariku..
Meski aku bukan siapa-siapamu.
Dan, Katamu: “Hanya ingin disini”
Saat aku tak ada di tempat biasa kita bersua, kamu bilang: “Aku rindu”.
Bagiku, ini cinta.
Kita belum genap 30 senja bersama tapi merasa selalu utama.
Semoga jika hari ini kau belum merasakannya pula, besok lusa kau akan tahu aku mencintaimu..
Best part of my life,
With you all, my krucils..
Tigaraksa, 10 Maret 2017
————————
Untuk KAMU yang katanya sebentar lagi mau jadi anak SMA… ^_^

Previous Older Entries