Matahari Itu Duduk di Ruang Tamuku

Aku tak sabar menuhggu pagi ini datang. Saat malam tadi seseorang menghubungiku akan berkunjung ke Cisereh. Mengetahui ada orang yang mau datang kesini saja sudah bahagia, maklum tempat “persemedi-an” ini butuh perjuangan dan tekad kuat untuk sampai. Dan ditambah dengan sosok keluarga yang datang, menambah semuanget. Insting kepo-ku aktif sejak ia dan keluarganya menyatakan akan silaturrahim.

Siapakah dia?
Aku mengenalnya lewat media massa. Seorang perempuan sederhana dari ujung Kab. Tangerang. Ia yang membaktikan seluruh hidupnya untuk orang lain. Untuk kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Kisah perjuangannya pernah diangkat di acara salah satu talkshow bergengsi di salah satu TV Swasta Nasional dan ia juga menyabet Award salah satu Bank ternama di negara ini.

IMG20170629102428
Ia adalah Ibu Sukmariah. Orang mengenalnya dengan sebutan Bu Sukma atau Bu Ucu.

Tepat beberapa pekan setelah aku menandatangani kontrak kerja 4 tahun lalu dengan salah satu sekolah swasta di Kab. Tangerang, ia menghubungiku untuk suatu pekerjaan di bidang yang tak kalah aku impikan. Tapi komitmen adalah komitmen. Seiring berjalannya waktu dan kesibukan di tempat kerja, aku “lupa” aku punya idola yang belum pernah kudatangi.

Hingga Pemerintah Kab.Tangerang melalui Dinas Perpustakaannya mengadakan sebuah acara yang akhirnya mempertemukan kami sebagai peserta yang tentu saja, aku adalah si krucil yang belum tahu apa-apa di dunia sosial. New comers yang masih perlu banyak belajar. Ia bertutur tentang pertemuan-pertemuan kami, tapi mirisnya aku belun tahu ia yang aku temui itu adalah yang “aku cari” selama ini. Kemampuanku menghafal wajah dan nama juga sinkronisasi keduanya memang perlu di upgrade.

Maka, ketika pagi ini ia datang bersama suaminya dan ketiga buah hatinya, aku berlonjak girang. Matahari itu duduk di ruang reotku. Aku bebas mengeksplore segala yang ingin aku tahu..
Maka terkisahlah semua cerita kebaikan itu. Dengan gaya sederhana dan tidak menampakkan bahwa dirinya memang layak digelari hebat ia mengajariku tentang hidup.

Dengan ratusan masyarakat miskin yang terbina yang tentu saja sekarang sudah berubah menjadi warga berkecukupan , kini tiga tahun terakhir ia sedang mengembangkan bisnis akhirat di bidang pendidikan. Ia mendirikan sekolah gratis untuk fakir miskin dan anak yatim tingat SMP-SMA. Sekolah boarding yang semua dananya tidak sepeser pun diambil dari kantong siswa. Aku pikir, sekolah model ini hanya ada di Jawa atau tempat lain yang jauuuh dari ibu kota, ternyata disini, di dekatku sendiri sekolah yang sejak lama aku impikan untuk ada.

Tujuh belas tahun ia berjuang di pemberdayaan masayarakat dan kini ia berjuang di dunia pendidikan rasanya membuat kekagumanku menggunung. Meski, aku tahu tidak ada manusia sempurna. Tapi, yang aku yakini hanya orang yang tulus yang mau berkorban untuk orang lain.

Sekolah gratis ini baru tiga tahun berdiri dan sudah mendapatkan akreditasi tanpa keluar uang (Selain biaya fotokopi berkas). Dan tamparan pembelajaran itu adalah ketika ia mengatakan: “Selama kami mendirikan sekolah pantang bagi kami untuk membuat proposal dan meminta-minta bantuan. Operasional sekolah sudah tertutupi BOS, maka jikapun ada pembangunan maka sifatnya kerja sama.” Sederhana, lugas, berharga diri.

Semoga esok lusa, aku bisa setulus dirinya. Bisa sekonsisten ia berbakti untuk negeri ini. Mampu seteguh ia mememegang amanah. Dan dapat menyinari orang lain pula dengan ketulusan, kecerdasan, juga kebaikan hati seperti yang dimilikinya.

Tangerang, 29 Juni 2017

Si Kecil Berdiam Di Masjid

Sepuluh hari terakhir Ramadhan kali ini menjadi penuh pembelajaran untuk kami. Saat kami belajar menjadi teman bertumbuh yang baik untuk anak-anak di sekitar kami, Allah menyuguhkan pembelajaran penting tentang mendidik anak. Ya, kami kembali dengan si “keluarga langit”.
Ketika itu di salah satu masjid di Kab. Tangerag kami bertemu dengan dua anak kecil yang ikut ayah ibunya berdiam di masjid. Kami dekati sang ibu, dan mulailah ke-kepo-an bekerja. Kami sampaikan tentang bagaimana bisa membawa dua anak agar mau ikut berdiam di masjid dengan tempat istirahat dan makan seadanya? Dan kedua anak itu terlihat teramat menikmati.
Kami sudah menyiapkan telinga untuk penjelasan panjang lebar, tapi ternyata jawabannya hanya: “Semua tergantung kita, mba..”. Yup pertanyaan yang sudah menumpuk-numpuk itu hilang, saat ia sampaikan kalimat tersebut. Teringat seorang sahabat yang mengurungkan niat untuk ke masjid dengan alasan buah hati. Dan menurut kami, itu masuk akal.. Tapi jawaban sang ibu tentang -semua tergantung ibunya- membuat akal kami mendadak menjadi dangkal. Kemanapun, aktivitas apapun, agar si kecil bisa ikut menikmati semua tergantung kita-ibunya.
Pelajaran berikutnya masih di sepuluh hari terakhir saat kami mendengar suara tangis bayi di pojok salah satu masjid di Jakarta Pusat. Pikir kami, mungkin sedang diajak rehat sholat oleh orangtuanya.. masa iya ada bayi yang diajak I’tikaf? Malam datang, saat taraweh sedang khusu dilaksanakan kami beringsut ke belakang karena suatu urusan dan ternyata benar, ada bayi merah di shaf paling belakang. Usianya belum genap tiga bulan.. Rabbana.. hati kami mencelos.. Maka kemudian kami yakin, ada pelajaran penting tentang berdiam di masjid yang membuat para orangtua ini “keukueh” mengajak buah hatinya ke masjid. Hikmah yang kami tangkap itu adalah:

1. Mengajarkan anak untuk menautkan hatinya ke masjid. Memberikan keteladanan pada mereka, bahwa selain mall dan tempat rekreasi, ada tempat yang juga tak kalah menyenangkan dan menenangkan yang wajib untuk dikunjungi.
2. Mendidik anak untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Bertemu teman baru, suuasana tidur yang jauuuh dari kasur empuk, makan dan berbuka seadanya, juga toilet yang pasti berbeda dengan di rumah
3. Quality time bersama si kecil dengan Al-Qur’an dan ibadah.

Mau anak kita tumbuh menjadi pribadi yang hatinya terpaut pada masjid dan dekat dengan Rabb-nya?
Ajak mereka I’tikaf dan bersabarlah meski (agak) repot.. kerepotan itu akan menjadi saksi suatu hari nanti, bahwa kita sudah berupaya optimal mendidik putra-putri kita.

Tangerang, 27 Juni 2017 (3 Syawal 1438 H)

——————————————————————
#Catatan untukmu yang berjanji di selasar masjid

Keluarga Tenang

Namanya Syabi. Lengkapnya Muhammad Syabi Barokah. Ia teman kecilku saat berlibur ke kota hujan beberapa pekan lalu.
Apa yang menarik dari diri anak kelas 4 sekolah dasar ini?
All of him.
Semua yang ada di dirinya sangat menarik untuk dipelajari dan semoga bisa dicontoh dirumahku kelak..
Sebagai orang yang selalu kepo dengan dunia keluarga, aku menilai semua hal menarik tentang Syabi berawal dari kedua orangtuanya, dari keluarganya.
Syabi anak tengah dari tiga bersaudara. Ia dibesarkan oleh tangan kekar seorang petani dan perempuan putih nan lembut khas Bogor. Meski sang ibu bukan asli Bogor tapi berhubung lama tinggal disana jadi miriiiiiiip sekali sifat dan lembutnya jadi seperti orang sana.
Kolaborasi kelembutan dan tegasnya sang ayah sepertinya yang menjadikan anak-anak asuhan mereka sungguh berbeda dengan anak pada umumnya.
Sang ayah rela menjemput ke sekolah si sulung meski si sulung baru terlambat 10 menit dari kebiasaannya sampai ke rumah. Bagi keluarga mereka, “pergi dengan izin orang tua” adalah keharusan. Dan bagi mereka, anak-anak SMA yang menurut sebagian orangtua adalah sudah besar tapi bagi mereka tetap memerlukan perlindungan ketat. Hasilnya adalah, sang anak jadi disiplin dan penuh hormat. Itu terbukti dari konsistensinya mengerjakan tugas rumah tangga yang dibagi padanya. Ia bertugas merebus air di tungku setiap sore. Dan itu ia lakukan dengan tanpa terpaksa.
Ayahnya juga rela mengerjakan segala tugas rumah tangga ketika sang istri hamil. Cintanya tidak sama sekali ada si status media sosial tapi menajam ke dasar hati. Itu yang tertangkap dari mataku saat ngobrol santai dengan keluarga ini.
Si kecil, yang perempuan juga unik. Sejak bangun tidur, ia sudah dibiasakan untuk pergi ke pengajian. Oh iya, pengajian disana tidak seperti kita yang sepekan sekali. Anak-anak mengaji setiap waktu sholat.Jadi, ia yang baru 4tahun itu ketika pertama kali bangun langsung ganti baju dan berangkat ke majlim ta’lim (minus mandi.. karena sueeer dingin banget).
Lalu apa istimewanya Syabi?
Anak tengah di beberapa keluarga yang kami amati, biasanya sulit diatur, senang mencari perhatian dan beberapa destruktif (tidak semua keluarga ya..). Tetapi Syabi tidak. Ia memang aktif, tapi aktif yang teratur. Ia mengaji 5 kali sehari ke pesantren dekat rumah, ikut ta’lim sampai malam dan terkadang menginap, berangkat sekolah, dan pulang sekolah mengaji lagi… Begitu setiap hari. Tapi, apa Syabi tidak mendapat jatah pekerjaan Rumah Tangga? Meski ia laki-laki, ia juga mendapat pekerjaan yang mungkin di beberapa wilayah di negeri kita hanya dilakukan oleh perempuan. Menyapu. Ya, sebelum sekolah setelah pulang mengaji subuh, ia akan mengambil sapu dan membesihkan sekeliling rumah. Belum lagi, lembutnya ia ketika menggendong adiknya dari rumah ke pengajian. Adiknya yang seusia TK dan dirinya yang baru kelas 4 jadi pemandangan yang luar biasa untukku…Tapi Syabi benar-benar anak bebas. Ia punya banyak teman, punya banyak aktivitas, dan tentu saja ia punya kebiasaan sendiri yang tidak sama dengan kakaknya yang akademisnya melangit. Syabi, dengan segala rutinitas dan padatnya aktivitas bisa menjadi anak yang tetap anak-anak dan menikmati ke-anak-anakannya..Bagiku ini tidak biasa.
Maka, kami dua manusia yang baru belajar ingin jadi orangtua ini berintrospeksi.
Sudah se-siap apa?

Tangerang, 12 April 2017

Cinta

Cinta Aku mencintaimu pada pekan pertama..
Untuk si Keras Hati, itu waktu yang tak lama…
Ntah bagaimana aku bisa mencintamu
Ntah Mengapa aku bisa tertawa bersamamu
PADAHAL Rupa lakumu Terkadang membuat sebagian besar orang jemu
Gayamu Sering membuat rasa tak tentu
Tapi disisiku kalian tetap seru
Saat sakit, saat bingung, saat tak tahu, saat gerah, hingga saat tak punya uang kau datang mencariku..
Meski aku bukan siapa-siapamu.
Dan, Katamu: “Hanya ingin disini”
Saat aku tak ada di tempat biasa kita bersua, kamu bilang: “Aku rindu”.
Bagiku, ini cinta.
Kita belum genap 30 senja bersama tapi merasa selalu utama.
Semoga jika hari ini kau belum merasakannya pula, besok lusa kau akan tahu aku mencintaimu..
Best part of my life,
With you all, my krucils..
Tigaraksa, 10 Maret 2017
————————
Untuk KAMU yang katanya sebentar lagi mau jadi anak SMA… ^_^

30 Ke 8

Purnama kedelapan banyak hal yang terlewati. Semua menjadi pelajaran berharga.  Ternyata memiliki pasangan bukan hanya menambah jumlah anggota keluarga. Tapi benar-benar menambah kekuatan.
Tanpa dukungan dan kesabaran pak suami, mungkin aku tidak akan mampu sampai ke bulan depan. Atas izin Allah.

Kali ini, aku juga belajar banyak untuk tidak dikendalikan orang lain. Semuak apapun berita yang sampai di telinga kita, maka tenang adalah jalan terbaik. Karena pembuktian kebenaran sebuah berita hanya butuh waktu. Biar waktu yang membuktikan, siapa yang berdusta..
Bulan ini juga jadi menarik hatiku untuk berteguh berdoa tentang jodoh. Ya, ternyata sudah menemukan pasangan hidup bukan berarti berhenti berdoa tentang jodoh. Jodoh itu tidak hanya sampai kakek-nenek, toh zaman ini ada banyak nenek yang ditinggal kakek untuk menikah lagi. Jadi, meminta sakinah disetiap nafas ternyata juga harus.

Mimpi, ya mimpi kami sejengkal demi sejengkal mulai terlihat wujudnya. Meski masih perlu perjuangan panjaaaaang untuk menjadikannya nyata. Perlu doa dan sabar yang lebih besar dan kaki yang lebih mantap untuk berjuang.

 

Tangerang, 30 Maret 2017

Menulis Sejarah Baru

Sepekan ini, kembali menemukan diri yang sempat hilang empat tahun terakhir. Kesibukan yang menyita segala kekuatan, akhirnya juga berimbas pada perubahan kepribadian yang membuatku seperti tidak mengenal diri sendiri lagi. Manakala setiap bertemu cermin pagi hari, yang terlihat digaris-garis wajah  adalah pekerjaan. Aku menjelma menjadi sosok tidak menarik. Adikku bilang, “Teteh jadi kayak putri malu. Sensitif super”.

Sebetulnya early warning system yang Allah kasih disetiap tubuh manusia (termasuk aku) sudah berbunyi sejak lama. 2016 menjadi tahun dimana bunyi alarm biologis itu sering terdengar, tidak hanya oleh diri sendiri tetapi juga disadari orang-orang terdekat. Saat badan setiap malam demam, saat mata tidak mampu lagi membaca karena letih, dan saat keluarga jadi tak punya waktu meski hanya untuk mengobrol santai.. Tetapi, aku abai dengan semua alarm itu.. Bagiku, semua baik-baik saja. Aku menikmati kesibukan menjadi “nyawa” sambungan setiap paginya. Aku mencintai kerja dan kebermanfaatan. Apapun organisasinya, selama membawa kebaikan pasti senang saja melakukan segala kegiatan yang ada di dalamnya.

Hingga, PERINGATAN itu berbuah menjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.. Aku harus merasakan sesuatu yang tidak pernah ada dalam kamus kehidupanku: KEHILANGAN.

Takdir membuatku berdiskusi denganNya untuk banyak hal yang sudah kulalui 4 tahun ini. Untuk apa, mengapa, bagaimana menjadi kalimat tanya yang membungkus hari-hariku selama aku berusaha menerima kehilangan itu. Aku tutup segala bentuk kalimat pengandaian, meski rasa menyesal berjejal dijiwa…

Kehilangan kali ini membuatku harus membuat keputusan yang hasilnya pasti membuatku akan merasakan kehilangan-kehilangan yang lain. Dan saat gundah itu menyapa, Dia berbicara dengan lembut menepuk kegamanganku: “Wahai hambaKu, kamu semua lapar, kecuali yang Aku beri makan. Oleh karena itu mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu” -H.R Muslim.
Ku kembalikan semua yang Dia titipkan. Allah pasti memiliki rencana terbaik untuk mereka yang kutinggalkan. Maka, akhirnya keputusan seterang purnama itu kuambil. Semoga Allah menjaga mereka dalam segala hal..

Kemudian Sepekan ini kubuka lagi semua buku tentang pengasuhan, pendidikan, dan tentang pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan dengan persiapanku menjadi orangtua. Aku bersiap menulis sejarah baru…

Kita semua tidak ada yang bisa memastikan, seorang perempuan bisa menjadi ibu atau tidak ketika ia melepaskan rutinitasnya. Tapi aku selalu yakin, hasil tidak akan mengkhianati proses. Saat kita berikhtiar terbaik, semoga Allah memberi takdir terbaikNya. Apapun.

Cisereh, 23 Feb 2017

Untuk Kamu…

Nak, bisa jadi kita memang tidak hidup dalam gelimang harta,

tetapi bukan berarti kita boleh menghina orang lain.
Bisa jadi kita memang tidak terlahir dari birunya darah kakek buyut,

tetapi bukan berarti kita  boleh merendahkan diri kita, karena harga diri dan kemuliaanmu  Allah berikan sejak manusia terlahirkan.

Dan janjiNya, di sisi Allah hanya ketakwaan yang membedakanmu dengan makhluk yang lain..
Nak, jangan sampai kilau jabatan membuatmu tak berhati,

karena kepemimpinan bukan untuk diperebutkan sehingga kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Mempersiapkan diri menjadi pemimpin terbaik itu harus, tapi kau menjadi pengemis jabatan itu bukan sebuah kemuliaan. Ada Palestina yang belum terbebaskan, ada Indonesia yang belum termakmurkan,  ada Roma yang terjanjikan, dan masih banyak lagi sisi kehidupan yang menantikan kelahiran seorang pemimpin berhati luas nan cerdas.
Nak, jangan biarkan tambahan saldo rekening membuatmu kalap harta, jangan sampai kau diperbudak dunia..

Karena, rizki itu adalah yang kita nikmati. Bukan yang orang lain lihat..

Nak, saat kesulitan menyergapmu tidak perlu kau penuhi akunmu dengan keluhan, seperti para Yahudi melakukannya di dinding ratapan mereka.

Gelar saja sajadahmu lebih lama, ada Allah yang menunggumu mengadu..
Bagi seorang muslim, ia sadar betul tidak ada satu kejadianpun di muka bumi ini tanpa izinNya.

Segalanya hanya perlu dinikmati, karena itu akan mendatangkan nikmat-nikmatNya yang lain. Tugas kita sebagai manusia mudah nak, jika kejadian itu menyenangkankan, kita bersyukur dan jika sesuatu itu tidak membahagiakan maka kita bersabar. Syukur dan sabar keduanya baik.

Karena kesabaran membuat engkau akan dibersamai Tuhanmu dan kesyukuran membuatNya ridha terhadapmu..

Cisereh, 17 Februari 2017
—————————-
Mempersiapkan segala yang terbaik.

 

Previous Older Entries